Ruang baca
Titik baca yang dibuka bersama warga — tempat buku berpindah tangan dan cerita berpindah kepala. Boleh datang untuk membaca, boleh juga sekadar duduk mendengarkan.
Kami membuka ruang baca bersama warga, memandu kelas cerita untuk anak dan remaja, dan menjangkau kampung yang belum punya akses bacaan.
Dari mana kami berangkat
Tiga hal yang menjelaskan kenapa gerakan ini ada dan ke mana arahnya.
Buku yang hanya tersedia di rak tidak membuat orang membaca. Yang membuat orang membaca biasanya orang lain yang mengajak.
“Waca” berarti “membaca”. Namanya lahir dari bahasa dan tanah tempat gerakan ini bertumbuh, di Labuan Bajo.
Membaca adalah cara mengenal, memahami, mendengar, dan berbagi cerita. Dari situ orang tumbuh bersama.
Program
Setiap program berjalan bersama warga setempat. Semuanya terbuka untuk relawan baru.
Titik baca yang dibuka bersama warga — tempat buku berpindah tangan dan cerita berpindah kepala. Boleh datang untuk membaca, boleh juga sekadar duduk mendengarkan.
Sesi menulis dan bercerita untuk anak dan remaja, dipandu relawan dari komunitas sekitar. Tidak ada yang dinilai, dan tidak ada cerita yang dianggap salah.
Kunjungan keliling ke kampung dan sekolah yang belum terjangkau akses bacaan. Kami yang berangkat, bukan menunggu didatangi.
Yang kami percayai
GrowingThroughStories
Melalui buku, cerita, dan kebersamaan, kami membangun ruang tempat orang belajar, saling memahami, dan berkembang bersama.
Nilai
Bukan slogan — ini yang kami pakai untuk memutuskan hal-hal kecil sehari-hari.
Program disusun bersama warga, bukan dibawa jadi dari luar.
Tidak ada syarat usia, latar belakang, atau kemampuan membaca.
Kalau sebuah format tidak berhasil, kami menyebutnya dan menggantinya.
Setiap kegiatan ditutup dengan menanyakan apa yang berubah.
Cara bergabung
Tidak perlu pengalaman mengajar. Yang dibutuhkan hanya waktu dan kesediaan mendengar.
Ceritakan siapa kamu dan waktu luangmu lewat email atau pesan Instagram. Satu paragraf sudah cukup.
Datang ke satu kegiatan sebagai pengamat dulu. Tidak ada komitmen apa pun setelahnya.
Memandu kelas, merapikan koleksi, mengantar buku, atau mendokumentasikan — semuanya dibutuhkan.
Terbuka untuk relawan, penulis, guru, dan siapa pun yang ingin menumbuhkan budaya membaca di Labuan Bajo.